Author: Salsabila Khansa (@_skhansa)
Main Cast:
- G-Dragon,
- TOP,
- CL,
- Park Bom,
- Jessica,
- Nana,
- Chorong,
- Kris,
- Jinyoung,
- Donghae.
Note: Hei! I come with a new FF. I'll still working the others hope you will wait. Sekarang yang ini dulu ya. Oh.. dan yang bertanya-tanya 'Kemana Donghae?' setelah baca ini, maaf ya, Donghae baru muncul di chapter berikutnya. Enjoy!
*Roommate*
“Bagaimana?
Sudah dapat?” tanya Seunghyun.
Dengan
kesal Jiyoung melempar koran di tangannya itu ke meja. “Belum. Should we really
do this hyung? Kita bisa menyewa salah satu apartement itu saja kan?”
“Tempat
seperti itu terlalu rawan.” jawabnya tanpa memalingkan pandangan dari tablet ditangan.
Jiyoung
memberengut kemudian mengambil kembali koran yang tadi dilemparnya. Dia tidak
berdaya melawan perintah hyungnya itu.
“Permisi.
Ini pesanan kalian.” seorang pelayan wanita berambut pirang meletakkan dua
gelas Americano beserta dua piring cheese cake di atas meja.
“Ne!
Jamkamannyo.” dia kemudian berbalik dan tersenyum pada Jiyong dan Seunghyun.
“Selamat menikmati!”
“Meja nomor 4!” seru bartender itu seraya
menyerahkan sebuah strawberry cake pada Chorong.
“Ne.”
*Roommate*
“Baiklah oppa… aku tahu… kali ini akan aku
tuntaskan. Tidak akan kulepaskan lagi… baiklah… baiklah…” ucap seorang wanita dengan
ponsel menempel ditelinga.
“Permisi.
Pesanan anda.” Chorong meletakan strawberry cake itu di meja wanita itu. “Selamat
menikmati.”
Chorong
lalu kembali ke meja bartender. “Ada lagi bos?”
“No.
Kau sudah berkerja keras. Oh iya, pagi ini aku melihat iklan seseorang menyewakan
kamarnya di koran. Katanya kau butuh tempat tinggal baru.”
“Jinjja?
Ne. Masa kontrakku sudah habis dan pemiliknya menaikan harga sewa. Aku harus
mencari tempat tinggal yang baru. Yang lebih murah tentunya.”
“Kalau
begitu pas sekali. Kurasa harganya juga tidak terlalu mahal. Lagi pula kau
perlu uang lebih untuk kuliahmu kan? Ini alamatnya. Pergilah besok!”
“Baiklah.”
*Roommate*
Malam
telah larut. Dengan langkah cepat dia menyusuri gang-gang kecil itu sebelah
tangan tetap menarik koper hijaunya. Saat itu fikirannya kalut, dia hanya ingin
cepat lari menjauh. Sudah cukup penderitaannya.
Suasana
gang sangat sepi hanya suara anjing melong-long yang terdengar. Wanita yang
terjatuh untuk beberapa kali tapi tetap berdiri kembali. Dia yang waktu itu
hanya memakai sepotong celana pendek harus menahan rasa sakit dan dingin di
kakinya. Tetap berlari sejauh mungkin.
‘BUKKK’
Kali
ini dia terjatuh lagi tapi saat dia mendongakkan kepalanya ternyata dia
menabrak seseorang. Mata bulat wanita itu menatap dalam mata pria itu. Bukan
hanya penampangan pria itu saja tapi matanya juga sangat dingin menggambarkan
keangkuhan.
“Seunghyun
hyung!” panggil seseorang. “Aku sudah membeli birnya.”
Pria
itu sekali lagi menunjukan tatapan dinginnya pada wanita yang ketakutan itu
sebelum mengalihkan pandangannya dan pergi.
*Roommate*
Nada
dering ponsel mulai memenuhi kamar Jessica. Jessica yang masih malas untuk
membuka matanya malah menaikan selimut menutupi kepalanya. Untuk sementara
dering ponsel itu mereda. Tapi kemudian
ponsel itu berdering lagi, satu kali, dua kali, dia abaikan. Sampai yang ketiga
kalinya ponsel itu akhirnya membuat Jessica membuka matanya.
“Aiish…!
Siapa sih pagi-pagi begini.” keluhnya. “Hallo!!... Siapa ini?... Siapa?? Oh ajummha,
jwesonghaeyo, aku tidak tau ini ajummha… Ajummha, apa benar-benar tidak ada
keringanan?... Biarkan aku tinggal disini beberapa hari lagi. Tolonglah aku
belum menemukan tempat tinggal… Tidak bisa ya?... Ne, arassoyo.”
Jessica
mendesah saat ajummha pemilik flatnya menutup telepon. Dia kembali mendesah
saat melihat koper-kopernya berderet didekat pintu. Ya, dia harus meninggalkan
flat yang sudah ditinggalinya selama dua tahun itu karena ajummha itu akan
menjual flatnya itu kepada orang lain. Jessica sudah mengemas barangnya semalam
tapi dia belum siap meninggalkan flat itu apalagi dikondisinya yang belum
menemukan tempat baru.
Dia
pun bersiap-siap, mandi lalu mengganti pakaiannya. Dia mengeluarkan kopernya,
sebelum itu dia menolehkan kepalanya menatap ke dalam flat itu. “Annyeong!”
ucapnya.
Dengan
langkah berat dia pun meninggalkan flat itu. Tidak tau harus kemana, dia
akhirnya duduk disebuah halte bus. Rasa bosannya mendorongnya untuk membaca
koran yang ditinggalkan orang-orang disana. Setelah membolak-balik mencari
bacaan yang menarik Sica akhirnya menemukan sebuah iklan yang menyatakan
menyewakan kamarnnya.
“Kurasa
ini bisa dicoba. Daripada aku harus tinggal di motel.”
*Roommate*
“Jadi
kau yang menghubungiku kemarin?”
“Ne,
ajummha. Aku Nana.”
“Kau
ingin menyewa kamar?”
“Ne.
Aku baru datang dari Chuncheon, jadi aku butuh tempat tinggal yang murah.”
“Jinjja?
Untuk apa kau ke Seoul?”
“Aku
aku mengikuti audisi menjadi model di Seoul.”
“Hmm…
baiklah… baiklah… satu kamar $35. Bagaimana?”
“$35 ya?” Nana Nampak berfikir sebentar. “Baiklah ajummha.”
“Kalau
begitu ayo ikut, aku tunjukan tempatnya.”
*Roommate*
Wanita
berkacamata itu berjalan dengan hati-hati, mencoba bersikap biasa saja. Matanya
tetap focus pada apa yang sedang dikerjakannya.
Tanpa
disadarinya seorang wanita pingsan dan menimpa dirinya. “Ah sh*t! Apa lagi
ini?”
Dia
mencoba mengangkat wanita itu mencoba mendudukannya. “Hey! Bangun!” dia
menampar kecil wajah wanita itu.
Wajah
wanita itu pucat seakan darahnya telah terserap pergi entah kemana. Dia
mendesah pelan karena wanita itu tak bangun-bangun.
“Hey!
Kau tidak apa-apa?”
Wanita
pingsan itu perlahan menggerakan kepalanya. Kesadarannya mulai kembali. “Kau
siapa?”
“Kau
siapa katamu? Kau yang siapa? Tiba-tiba pingsan diatas tubuh orang.”
Wanita
itu memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit. “Aku Bom. Maaf
merepotkanmu.”
Bom
mencoba berdiri walaupun susah. Wanita berkacamata itu mengamati Bom, dari
kepala sampai ujung kakinya. Kaki panjang Bom yang putih sekarang memar-memar
dan berdarah.
“Namamu
siapa?” tanya Bom.
“Aku?
Uh… itu… namaku… uh… Chaerin.”
“Oh
Chaerin.”
“Kau
mau kemana? Kau terlihat... berantakan.”
“Ah..
itu.. aku sedang mencari tempat tinggal.”
“Begitu
rupannya.”
Mereka
berdua berjalan bersama. Untuk sesaat Chaerin melupakan apa yang harus
dikerjakannya.
*Roommate*
Chorong
melihat kertas pemberian bosnya kemarin. Alamat tempat disewakan kamar itu.
“Sepertinya memang yang ini.”
Chorong
memandang ke depannya tidak yakin. Pasalnya gedung itu kelihatan sudah tua
sekali. Dengan cet merah terang yang pastinya sudah terlihat kusam seiring
waktu. Jendela-jendelanya pun sudah dalam kondisi yang tidak bagus.
Dengan
teliti matanya melihat gedung itu sampai ketika seseorang keluar dari gedung
itu. Seorang pria berambut golden sepertinya. Digendongnya gitar dibelakang
punggungnya. Tatapannya dingin.
“Jogiyo!
Apa benar ini disini?” Chorong menunjukan alamatnya.
“Ne.”
“Ah
begitu rupanya. Apa kau penyewa disini?”
“Mian,
aku sibuk. Kalau kau mau bertanya, tanya sama ajummha itu. Dia pemiliknya.”
tunjuknya kebalik bahu Chorong. Chorong pun menoleh.
Seorang
ajummha bersama seorang agashi cantik sedang menuju ke arahnya. Dia pun menoleh
kembali tapi namja itu telah pergi. “Dingin sekali.” ucapnya.
“Agashi
siapa?” tanya ajummha itu.
“Annyeonghaseyo.
Aku Park Chorong. Aku ingin menyewa.”
“Begitu
ya? Kebetulan agashi ini juga ingin menyewa.”
“Aku
Nana.”
Mereka
hendak memasuki gedung itu sesuai perintah ajummha itu tapi…
“Jogiyo.
Maaf tapi apa benar disini disewakan kamar?”
Seorang
agashi lain muncul dengan dua buah koper ditanganya. “Aku ingin menyewa.”
ucapnya.
“Benar.
Masuklah. Ayo ayo!” suruh ajummha itu.
*Roommate*
“Kau
mau kemana?” tanya Chaerin.
“Mencari
tempat tinggal.”
Dari
penampilannya dan koper ditangan Chaerin sudah bisa menebak bahwa dia terlantar
tanpa rumah. “Dimana?”
“Semalam
aku mendapat alamat ini di internet. Letaknya di pinggiran Seoul dan harganya
murah.” dia menunjukan alamat di ponselnya.
“Ini
disekitar sini kan?”
“Eum..
ah! Kurasa disana.” tunjuk Bom. “Mau menemaniku masuk?”
Chaerin
yang kasihan pada Bom tidak tega apabila dia harus meninggalkan wanita ini
sebelum dia pasti menemukan tempat tinggal. “Baiklah.”
*Roommate*
Ajummha
dan ketiga wanita itu pun masuk. Ketika ajummha itu membuka pintu lonceng yang
tergantung di atasnya pun berbunyi.
“Kalian
siapa?” tanya ajummha melihat dua pria sedang duduk di dalam gedung itu.
Ketika
itu lonceng di atas pintu itu kembali berbunyi, membuat mereka mengalihkan
pandangan mereka lagi. Chaerin dan Bom yang baru masuk kaget mendapat tatapan
dari banyak orang langsung membungkuk memberi salam.
“Maaf,
apakah aku bisa menyewa sebuah kamar disini?” tanya Bom.
Chaerin
disebelah Bom hanya melihat sekeliling, sampai tatapannya terpaku pada dua
orang pemuda disitu. Untuk sesaat dia hanya terdiam terlihat berfikir keras.
“Ah,
tentu saja. Tuan muda ini sedang apa disini?” tanya ajummha itu kembali menoleh
pada dua pria itu.
“Kami
ingin menyewa.” jawab seorang yang lebih tinggi.
“Nah,
agashi ini sedang apa?” tanya ajummha bertanya pada Chaerin.
Chaerin
tersentak karena ditanya tiba-tiba. “Aku.. itu.. ah, bukankah temanku sudah
berkata kalau kami ingin menyewa kamar?” Chaerin lalu mengalungkan tanganya di
leher Bom. “Benarkan?”
Bom
kaget karena tidak menyangka kalau Chaerin akan menyewa kamar juga. “Tapi…”
“Bagaimana
ajummha?” tanya Chaerin mengalihkan perhatian darinya dan Bom.
“Ouuh..
nampaknya dewi keberuntungan sedang berpihak padaku hari ini. Kenapa tiba-tiba
banyak sekali yang datang untuk menyewa.” ucap ajummha itu sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Tapi
ajummha. Mana kamarnya? Ini bukanya sebuh pub ya?” tanya Chorong.
Saat
itu lonceng pintu kembali berbunyi, seorang pria tinggi datang dengan membawa
dua kantong belanjaan.
“Kris
kau datang?” tanya ajummha itu. Yang ditanya hanya membungkuk. Dimatanya Nampak
kebingungan melihat begitu banyak orang disana.
“Jadi
begini..” ajummha mencoba menjelaskan. “Kris ini menyewa lantai bawah ini dan
menjadikanya sebuah pub. Kamar-kamar ada di lantai dua.”
Ajummha
itu pun membawa mereka semua ke lantai atas untuk berkeliling. Tidak seperti
penampilan luarnya, di dalam terlihat lebih rapih dan sudah dicet ulang,
tempatnya pun luas sekali. Walaupun jendela sudah terlihat rapuh dan jelek tapi
di dalam telihat baik-baik saja. Di lantai itu juga ada sebuah dapur kecil,
sebuah kamar mandi, dan sebuah ruang keluarga dengan sofa dan TV usang.
“Aku
sudah memberikan yang terbaik untuk memperbaikinya tapi aku tidak punya banyak
uang jadi aku tidak bisa menyulapnya menjadi istana. Gedung ini memang sudah
tua, tapi aku jamin kalian akan nyaman di sini lagipula aku memberikan harga yang
sangat murah. Cuma $35.” jelas ajummha itu. “Tapi seperti kalian lihat disini
cuma ada empat kamar dan salah satunya sudah ditempati seseorang.”
Chorong
kemudian terfikir namja yang tadi.
“Dan
kalian ada tujuh orang. Aku tidak memaksa kalian, tapi kalau kalian tetap mau
menyewa disini kalian harus berbagi kamar. Lagipula itu akan lebih hemat karena
kalian bisa berbagi uang sewa. Dikamar utama itu ada sebuah ranjang tingkat dan
sebuah ranjang biasa. Jadi tiga orang bisa berbagi kamar. Dikamar lainnya ada
dua ranjang. Sekarang terserah kalian.”
Mereka
semua terlihat berfikir keras sambil melihat sekeliling menimbang-nimbang.
“Aku
akan tetap menyewa.” ucap Bom pasti.
“Aku
juga.” ucap Jessica.
“Hyung
bagaimana?” bisik seorang pemuda yang lebih pendek.
“Kami
juga akan mengambil satu kamar.” kata pria yang dipanggil hyung itu.
“Aku
juga. Aku akan berbagi kamar dengannya.” Chaerin sekali lagi merangkul Bom.
“Aku
juga ajummha.” seru Nana dan Chorong serentak.
“Baiklah,
kalau begitu tuan muda ini bisa berbagi kamar, nama kalian?”
“Aku
G-Dr…” seorang yang dipanggil hyung itu menyikutnya keras sebelum dia
menyelesaikan kalimatnya.
“Aku
Seunghyun, dia Jiyoung.”
“Baiklah.
Seunghyun dan Jiyoung satu kamar. Kalian?”
Ajummha
itu menatap Chaerin dan Bom.
“Aku
Park Bom.”
“Chaerin.
Lee Chaerin.”
“Park
Bom dan Chaerin satu kamar dan Nana, Chorong, dan…”
“Jung
Jessica.”
“Oke!
Nana, Chorong, dan Jessica satu kamar. Urusanku selesai. Silahkan menikmati rumah
baru kalian.”
*TBC*


Annyeonghaseo!!:) sya reader baru disini! ff-nya keren tolong dilanjutin, ya! jangan lama2.
ReplyDeletegomawo!!:)
Sering sekali ko bikin cerita tentang saya eh hahaha 👻👻
ReplyDeleteffnya di lanjutin dong..
ReplyDelete