Author: Salsabila Khansa (@_skhansa)
Main Cast:
- Taeyeon (SNSD),
- Jessica (SNSD),
- CL (2NE1),
- Mir (MBLAQ),
- Dongwoon (B2ST),
- Seohyun (SNSD),
- Nana (After School),
- Key (SHINee),
- Amber (f(x))
Minor Cast: Kahi, Leeteuk (SuJu), Park Bom (2NE1)
Couple: TaengSic, KeyBer, TaeTeuk, MirNa
Length: Friendship, Romance
Author message: Poster baru loh. Semoga suka ceritanya. Bagi penggemar TaengSic wajib baca nih. Para readers yang suka RCL juseyo!! Kalau ngga bisa langsung komen di sini, bisa ngirimin aku pesan lewat FB atau Twitter. Aku bener-bener pengen tahu gimana respon orang sama tulisanku. Jadi please RCL ya!
Summary:
Prev: Intro+Teaser, Part 1, Part 2, Part 3, Part 4
**A-Plus**
Nana POV
Sudah
hampir sebulan kami tinggal di sini. Setiap hari tanpa stop kami berlatih
menari, menyanyi, rap, memainkan instrumen, serta berlatih sedikit akting serta
presenting juga. Tentu saja lelah. Tubuh kami serasa lelah, dan tulang kami
juga serasa akan patah semua karena rutinitas lari pagi serta menari yang kami
lakukan setiap hari.
Jari-jari
tanganku bahkan menjadi jelek karena harus memainkan gitar dan instrumen
lainnya. Bahkan aku sempat kehilangan suaraku sangking kerasnya berlatih
menyanyi.
Sekarang
tanggal 24 Desember, kami hanya berlatih menyanyi dan menari untuk beberapa
jam. Setelah itu kami diberi toleransi karena malam ini adalah malam natal.
Aku
melihat jam diruang tengah. Jam 6 sore. Semua sedang sibuk melakukan sesuatu.
Kahi ssaem, Bom ssaem, Taeyeon unnie, dan Seohyun sedang memasak di dapur.
Sepertinya kita akan mempunyai banyak makanan enak malam ini fikirku.
Aku
memeriksa kamar kami. Jessica unnie sedang tertidur pulas di ranjangnnya. Dia
terlihat sangat lelah.
Aku
pun berjalan melewati ruang latihan dan melihat CL, Mir, dan Dongwoon sedang
mengobrol dengan sedikit bercanda. Aku baru akan bergabung dengan mereka ketika
aku mendengar suara dari luar rumah.
Amber
dan Key sedang duduk berdua di dekat perapian di luar rumah. Mereka mengobrol
tidak memedulikan apa pun disekitarnya. Key mengalungkan lengannya di bahu
Amber sesekali mencubit pipi Amber. Ah~ irinya aku.
“Yak!
Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyaku lalu duduk di samping Amber.
“Memanfaatkan
kesempatan.” jawab Key enteng.
“Hah?”
pandangku bertanya-tanya maksud dari ucapan Key.
“Sudah
hampir satu bulan aku tidak bisa mengobrol sesantai ini bersama Amber. Jadi
kami memanfaatkannya. Kau sendiri apa yang kau lakukan? Bekerliaran sendiri di
rumah?”
Aku
tidak menjawab.
“Yak!
Nana kau ini sudah dewasa. Kenapa tidak mencari pacar? Jangan hanya sibuk
mengurusi pemotretanmu saja.”
Aku
memonyongkan sedikit mulutku. “Aku tahu. Lagipula banyak kok namja yang
menyukaiku hanya aku saja yang menolak mereka.”
“Ngomong-ngomong
Nana, Myungsoo menghubungiku beberapa minggu yang lalu.”
“Mau
apa lagi dia?”
“Myungsoo
itu siapa oppa?” tanya Amber.
“First
lovenya.” Key menunjuk diriku menggunakan telunjuknya. “Dia masih peduli
denganmu Nana. Saat aku bertemu dengannya dia pasti selalu menanyakanmu
terlebih dahulu.”
Tidak
peduli! Aku meninggalkan Key dan Amber tanpa mengatakan apa-apa. Pergi ke
kamar. Berbaring di ranjangku tepat di bawah ranjang Amber.
**A-Plus**
Author POV
Jam
sudah menunjukan pukul 7. Semua makanan sudah tertata rapih di meja makan. Satu
per satu mulau berkumpul di meja makan siap mengisi perut mereka yang kosong.
“Sebelum
makan mari kita berdoa dulu dan berterima kasih pada Tuhan.”
Semua
menundukan kepalanya dan menyatukan kedua telapak tangannya. Berdoa dalam hati.
“Selesai.”
ucap Leeteuk.
“Selamat
makan!” ucap mereka serentak.
**A-Plus**
Setelah
menyelesaikan makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga berbagi
kebahagiaan malam natal bersama.
Kebahagiaan
makin terasa ketika musik mulai dinyalakan dan mereka mulai menari. Awalnya
musik dengan beat sangat cepat terdengar, tapi makin lama lagu menjadi lebih
slow. Lagu slow yang sangat lembut dan romantis terdengar.
Key
mengajak Amber ke tengah. Salah satu tangan Key berada di pinggul Amber dan
satunya memegang tangan Amber.
Hal
itu pun mulai diikuti yang lainnya.
Dongwoon
mengajak Seohyun berdansa dan Seohyun menanggapinya dengan anggukan. Mereka pun
mulai melakukan hal yang sama dengan Key dan Amber.
Mir
menetapkan hatinya kemudian memberanikan dirinya mengajak Nana untuk berdansa.
“Mau berdansa?” Mir menawarkan tanganya. Sesaat Nana menatap Mir heran, tidak
menyangkan bahwa Mir akan mengajaknya ke lantai dansa. Tapi untuk sesaat
kemudian Nana tersenyum dan menyambut tangan Mir.
Taeyeon POV
Aku
melihat teman-temanku berdansa. Mereka melakukannya dengan baik. Aku menoleh ke
kiri dan kanan. “Dimana Sica?” gumamku sambil terus mengedarkan pandanganku ke
sana kemari tapi tetap tidak ada.
Aku
baru hendak melangkahkan kakiku untuk mencari Sica tapi seseorang lebih dulu
menahan pergelangan tanganku.
“Mau
berdansa?” tanyanya. Dapat kurasakan jantungku mulai berdetak lebih cepat dan
membuat pipiku memerah.
Seorang
Leeteuk ssaem sekarang berdiri di depanku sambil tersenyum dan mengajakku
berdansa. It’s really dream come true! Aku langsung mengangguk, tidak ingin
menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tangannya
memegang tanganku, jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Entah kenapa,
rasanya begitu pas, tangan kami begitu pas. Sebelah tangannya memegang pinggulku
membuat pipiku kembali memerah.
Aku
tidak peduli dengan musiknya sekarang, organku yang lain rasanya tidak ingin
berfungsi, rasanya semua tenaga dari organku berkumpul di mataku. Tidak ingin
berkedip, ingin terus melihatnya tersenyum padaku seperti ini, tidak ingin
melepaskan tangannya. Bisakah waktu berhenti dan membiarkan kami terus seperti
ini?
Musik
berhenti, Leeteuk ssaem pun menghentikan langkahnya, aku pun begitu. Rasa
kecewa menyusup memasuki hatiku. Rasanya baru sebentar kami berdansa dan sekarang
kami harus terpisah.
Kami
duduk di sofa menyesap segelas wine, karena sudah lelah menari kami memutuskan
untuk berbincang-bincang. Mir membuat sedikit lelucon yang membuat suasana
makin membahagiakan.
Setelah
menyesap sedikit wine, aku meletakannya kembali di meja dan melihat segelas
wine masih utuh. Dan kemudian aku ingat bahwa Sica tidak ada bersama kami.
“Aku
ke kamar sebentar.” pamitku.
**A-Plus**
Jessica POV
Aku
menghentikan tubuhku menari karena sudah lelah. Musik pun melambat. Aku melihat
Key dan Amber mulai berdansa berpasangan. Karena ingin mencari udara segar aku
memutuskan pergi.
Aku
pergi ke ruang latihan yang sepi. Yang membatasi ruangan ini dengan alam luar
hanyalah sebuah kaca, jadi aku bisa melihat ke luar. Salju turun dengan
indahnya. Aku mengeratkan jaketku karena mulai merasa kedinginan.
Aku
merogoh kantong jaketku dan mengeluarkan ponselku. Aku menatap layar ponselku. Foto itu
tiba-tiba muncul. Foto orang itu, wajah itu, senyum itu membangkitkan semua
kenangan yang telah ku simpan rapih. Kenangan manis juga kenangan pahit.
“Bodoh, kenapa aku masih menyimpan foto ini”
gumamku.
Aku menarik nafasku dan mencoba untuk menahan
air mataku agar tidak keluar. Kenapa dia? Kenapa kau memilih dia? Hampir saja.
Semua hampir terjadi, aku hampir memilikimu tapi kenapa...
Kakiku lemas, aku pun jatuh terduduk di
lantai. Aku sudah mencoba menahannya untuk waktu yang lama tapi kali ini aku
terlalu lemah untuk menahannya lagi. Rasa sakit di dadaku muncul kembali
seiring dengan munculnya kenangan akan dirinya. Air mataku pun jatuh lagi, mengalir
begitu deras.
Aku kembali menatap salju yang jatuh tanpa
beban apa pun, tapi itu menambah sakit di dadaku. Tahukah kau bahwa selama
empat tahun ini aku selalu menderita ketika melihat salju turun? Tahukah kau
kalau aku menderita dan tidak bisa merasakan kebahagiaan natal selama empat
tahun ini?
Ini semua karena kau bodoh! Karena aku selalu
mengingatmu! Aku iri pada salju yang tidak mempunyai beban dan bisa jatuh
menyentuh tanah dengan mudahnya, aku iri melihat orang-orang merayakan natal
bersama seorang yang dia cintai. Aku iri!
Itu semua tidak akan terjadi kalau kau masih
bersamaku. Kenapa kau tega menyiksaku sih? Kau sangat jahat!
Aku kembali terisak. Aku membekap mulutku
dengan kedua tanganku. Aku membekapnya dengan keras karena tidak ingin orang
lain mendengar teriakan menyedihkanku ini. Dadaku terasa sakit sekali serasa
ingin mati saja.
**A-Plus**
Taeyeon POV
Aku pergi ke kamar kami karena ku fikir Sica
pasti sedang tidur, tapi nyatanya tidak ada. Kemana anak itu? Aku mengintip ke
luar jendela, tapi dia tidak di luar. Malam natal seperti ini seharusnya dia
bersenang-senang bersama kami bukannya kabur entah kemana.
Aku makin khawatir saat tidak menemukannya
dimana pun. Kamar mandi, ruang makan, dapur. Aku tidak menemukannya
dimana-mana. Aku baru memutuskan memberitahu yang lain ketika aku mendengar
suara isakan dari ruang latihan. Aku mengintip dan menemukan Sica terduduk di lantai
sedang membekap mulutnya. Dia sedang berteriak tapi berusaha agar orang-orang
tidak mendengarnya dengan cara membekap mulutnya. Bahunya bergetar hebat.
Aku mendekatinya dan memgang bahunya yang
begetar. Aku duduk disampingnya. “Sica gwenchana? Ada apa denganmu?”
Dapat kulihat air mata bercucuran dengan
deras dari matanya. “T..ta..taeye..on ah.” ucapnya terbata-bata.
“Gwenchana?” tanyaku lagi. Spontan aku
memeluknya dengan erat. “Sica kenapa kau seperti ini?’
Sebuah pemikiran terlintas di kepalaku. Aku
melepas pelukanku, menatap Sica. “Karena dia? Apa karena dia lagi? Sica-ya.”
“Appa! Nae maeumi neomu appayo, Taeyeon-ah.”
ucap Sica ditengah-tengah isakannya.
Aku memeluknya kali ini menunggu sampai isakannya
mereda. Selalu seperti ini! Menangis dengan keras sendiri sampai aku
menemukannya. Ini sudah empat tahun Sica, dan selalu saja seperti ini, kau bisa
mencariku Sica, kau bisa memintaku menemanimu menangis. Kapan pun itu aku siap.
Sica-ya aku ini sudah menjadi temanmu selama tujuh tahun. Aku juga sakit setiap
melihatmu seperti ini selama empat tahun. Jangan seperti ini terus Sica. Kau
mempunyai ku.
Aku mengelus punggungnya. Isakannya pun
perlahan mereda aku pun melepaskan pelukanku. Aku duduk di sampingnya
membiarkannya menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku memegang tangannya.
“Gomawo.” ucapnya. Aku hanya mengangguk.
“Jangan seperti ini lagi, jangan menangis
sendiri lagi. Araso?”
Dia mengangguk. “Mianhe.”
“Kenapa mengingatnya lagi? Kukira kau sudah
berhasil melupakannya.”
Jessica memberikan ponselnya padaku,
menunjukan sebuah foto di ponsel itu. “Aku lupa menghapusnya.” ucapnya polos.
“Bodoh!”
“Aku tahu.” Sica menunjuk salju yang sedang
berjatuhan. “Salju juga mengingatkannya padaku. Ada banyak hal yang bisa
mengingatkannya padaku.”
“Maka dari itu kau lemah.”
Sica mengangguk.
Kami terdiam beberapa saat.
“Taenggoo kenapa kau selalu menemukanku
ketika aku menangis.”
“Karena aku adalah sahabatmu dan kau adalah
sahabatku.”
Jessica tersenyum. “Kau tahu aku sudah
menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu waktu SMA.”
“Benarkah? Kenapa?”
“Karena kau satu-satunya yang berani
mendekati ice princess lebih dulu. Kau satu-satunya yang memperkenalkan dirimu
pada seorang ice princess sepertiku.”
“Terima kasih sudah menyukaiku.”
“Tapi aku juga membencimu.”
Aku membulatkan mataku menatapnya
bertanya-tanya. “Apa aku pernah berbuat salah padamu?”
Dia mengangkat kepalanya dan menggeleng. “Anyo.
Aku membencimu bukan karena kau berbuat salah tapi karena aku iri. Aku iri
karena orang-orang terus mengatakan suaramu lebih bagus dariku.”
“Karena itu? Heol~” ucapku.
“Aku tahu itu benar-benar kekanak-kanakan.
Tapi aku benar-benar iri.” ucapnya. “Tapi setiap mencoba menjauhimu dan
membencimu aku tidak bisa. Karena...”
“Karena apa?”
“Karena hanya Taenggoo yang tahu aku dengan
sangat baik. Karena Taenggoo yang selalu berada di sisiku ketika aku menangis.
Karena Taenggoo adalah sahabatku dan aku adalah sahabat Taenggoo. Karena kita
adalah...”
“Taengsic shidae!” ucap kami kompak lalu
tertawa bersama.
**TBC**
Semoga suka readers ^^




No comments:
Post a Comment